15
Sistem Pembayaran Lintas Batas Yang Efisien Dapat Menguntungkan Pekerja Migran Dan Memulihkannya

Sistem Pembayaran Lintas Batas Yang Efisien Dapat Menguntungkan Pekerja Migran Dan Memulihkannya

Minamidiamondring.com- Remitansi dari pekerja migran telah memainkan peran penting sebagai salah satu sumber utama mata uang asing di banyak negara, termasuk Indonesia. Masuknya dana dari pekerja migran telah membantu memperkuat neraca berjalan Indonesia, terutama neraca pendapatan sekunder.

Indonesia menderita defisit transaksi berjalan karena defisit perdagangan jasa dan pendapatan primer yang umumnya besar, tetapi surplus pendapatan sekunder, sebagian karena remitansi dari imigran Indonesia, disertai dengan defisit transaksi berjalan seiring dengan surplus perdagangan komoditas. Dikurangi. Pekerja di seluruh dunia.

Terlepas dari pembatasan pergerakan lintas batas akibat pandemi virus corona, sekitar 3,2 juta orang Indonesia yang bekerja di luar negeri mengirim remitansi dengan total lebih dari US$ 9,2 miliar pada tahun 2021. 3,7 juta pekerja migran dan $ 11,4 miliar remitansi. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai pengekspor TKI terbesar kedua di ASEAN setelah Filipina.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta menjelaskan bahwa cross border payment akan menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan ketiga tingkat Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral atau Finance Minister and Central Bank Governors (PMCBG) Presidensi G20 Indonesia, 15—16 Juli 2022 di Nusa Dua, Bali.

Sistem transaksi itu sedang dikembangkan di Asia Tenggara oleh lima negara besar atau Asean 5, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Namun, menurut Filianingsih, pengembangannya tidak selalu berjalan mulus karena terdapat berbagai tantangan.

“Ada empat hambatan Cross border payment, terutama mahal,” ujar Filianingsih dalam konferensi pers FMCBG, Kamis (7/7/2022).

Pertama, menurutnya adalah biaya yang mahal. Pembuatan sistem transaksi lintas negara membutuhkan kesiapan infrastruktur di masing-masing tempat yang biayanya tidak kecil.

Kedua, terdapat perbedaan waktu antar wilayah, terutama jika dua negara terkait terpaut jarak yang sangat jauh. Filianingsih mencontohkan bisa jadi pembayaran berlangsung di negara yang masih berada dalam jam kerja, tetapi penerimanya sudah melewati jam kerja sehingga perbankan sudah tutup.

SEE ALSO  Momen Bahagia Adinda Azani Yang Dilamar Kekasih Baru

Ketiga, aspek transparansi kerap menjadi tantangan dalam penyediaan transaksi yang melibatkan lebih dari satu negara. Keempat, aksesibilitas yang kerap terbatas karena belum tentu seluruh masyarakat melek digital.

Meskipun begitu, Filianingsih menyebut bahwa implementasi cross border payment dapat memberikan banyak manfaat, oleh karena itu Asean 5 mengembangkannya.

Adanya local currency settlement membuat transaksi akan terjadi dalam mata uang sendiri, sehingga tidak perlu terjadi proses perubahan kurs yang memakan waktu.

“Biaya transfer akan menjadi lebih murah, pariwisata akan lebih efisien karena tidak usah tukar-tukar mata uang [saat berwisata]. Misalnya di Thailand, scan [saat membayar], harga langsung muncul, kurs langsung muncul, yang dibayarkan bukan dalam bentuk baht, tetapi source of fund kita dalam bentuk rupiah langsung,” katanya.