39
Gempa Mars Yang Tak Terdeteksi Oleh NASA

Gempa Mars Yang Tak Terdeteksi Oleh NASA

Aktivitas vulkanik di bawah permukaan Mars diyakini bertanggung jawab atas gempa bumi Mars yang berulang di area tertentu di Planet Merah, mirip dengan gempa bumi Mars. Hal ini terungkap dalam sebuah studi baru oleh para ilmuwan di Australian National University (ANU) dan Chinese Academy of Sciences di Beijing.

Studi yang dipublikasikan di Nature Communications, menemukan 47 gempa bumi Mars yang sebelumnya tidak terdeteksi di bawah kerak Mars yang disebut Zona Fosil Cerberus. Ini adalah area aktivitas seismik aktif di Mars dan berusia kurang dari 20 juta tahun.

Penulis studi berspekulasi bahwa aktivitas magmatik mantel Mars, lapisan dalam antara kerak dan inti, bertanggung jawab atas 47 gempa bumi Mars. Temuan menunjukkan bahwa magma di mantel Mars masih aktif dan bertanggung jawab atas gempa vulkanik di Mars. Temuan ini tidak sesuai dengan keyakinan ilmuwan sebelumnya bahwa peristiwa ini disebabkan oleh kekuatan struktural Mars.

Menurut profesor Hrvoje Tkalci, seorang ahli geofisika dan rekan penulis dari ANU Geoscience Research School, sifat gempa yang berulang dan fakta bahwa mereka semua terdeteksi di area yang sama lebih seismik daripada yang diperkirakan sebelumnya oleh Mars. Ini menunjukkan bahwa itu aktif. “Kami telah menemukan bahwa gempa bumi Mars ini terjadi berulang kali sepanjang hari di Mars, tetapi gempa bumi Mars yang sebelumnya terdeteksi dan dilaporkan oleh NASA tampaknya hanya terjadi pada tengah malam ketika planet ini tenang,” kata Profesor Tkalci. saya katakan.

Karena itu, mereka berasumsi bahwa pergerakan batuan cair di mantel Mars adalah pemicu 47 gempa Mars yang baru terdeteksi di bawah wilayah Cerberus Fossae. Tkalci mengatakan, kegempaan terus menerus menunjukkan wilayah Cerberus Fossae di Mars secara seismik sangat aktif.

SEE ALSO  Uji Coba Di Klub Yunani, Begini Ungkapan Bagus Kahfi

“Mengetahui bahwa mantel Mars masih aktif sangat penting untuk memahami bagaimana Mars berevolusi sebagai planet,” katanya.

Hal itu dapat membantu peneliti menjawab pertanyaan mendasar tentang tata surya dan keadaan inti Mars, mantel, dan evolusi medan magnetnya yang saat ini tidak ada.

Para peneliti menggunakan data yang dikumpulkan dari seismometer yang terpasang pada pendarat InSight NASA. Pendarat itu telah mengumpulkan data tentang gempa, cuaca, dan interior planet Mars sejak mendarat pada 2018. Dengan menggunakan algoritma unik, para peneliti menerapkan teknik mereka pada data NASA untuk mendeteksi 47 gempa Mars yang sebelumnya belum ditemukan.

Para penulis penelitian mengatakan, meski gempa akan menyebabkan beberapa guncangan di Mars, peristiwa seismik itu relatif kecil dan hampir tidak akan terasa jika terjadi di Bumi. Gempa terdeteksi selama sekitar 350 sol yang setara dengan sekitar 359 hari di Bumi. Sol adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada satu hari di Mars.

Menurut Profesor Tkalci, temuan Gempa Mars dapat membantu para ilmuwan mencari tahu mengapa Planet Merah tidak lagi memiliki medan magnet. “Gempa Mars secara tidak langsung membantu kita memahami apakah konveksi terjadi di dalam interior planet, dan jika konveksi ini terjadi, yang sepertinya didasarkan pada temuan kami, maka pasti ada mekanisme lain yang berperan, yang mencegah medan magnet berkembang di Mars,” katanya.

Semua kehidupan di Bumi, kata dia, bisa terjadi karena adanya medan magnet Bumi. Madan magnet mampu melindungi semua yang hidup dari radiasi kosmik. Jadi, tanpa medan magnet, kehidupan seperti yang kita tahu tidak akan mungkin terjadi.

“Oleh karena itu, memahami medan magnet Mars, bagaimana ia berevolusi, dan pada tahap mana sejarah planet itu berhenti, jelas penting untuk misi masa depan dan sangat penting jika para ilmuwan suatu hari berharap untuk membangun kehidupan manusia di Mars.”

SEE ALSO  Gempa Minggu Pagi Di Wilayah Pacitan, BMKG Imbau Masyarakat Agar Waspada