32
Kejadian Klitih Di Jogja, Anak DPRD Jadi Korban

Kejadian Klitih Di Jogja, Anak DPRD Jadi Korban

Aksi klitih kembali terjadi di Yogyakarta pada Minggu dini hari (2 Maret 2022). Kali ini, klitih membunuh seorang siswa sekolah menengah (SMA).

Daffa Adziin Albasith, 18 tahun, mahasiswa tewas Kurichi di Gedongkuning Yogyakarta, ditemukan putra Madkhan Anis, anggota DPRD Kebumen. Saat pergi ke Sahur, korban menjadi korban Kurichi.

Mengutip berita (4 April 2022), Kombes Pol, Direktur Bareskrim Polda DIY. AdeAry Syam menjelaskan kronologis kejadian tersebut.

Kronologi kejadian klitih
Minggu sekitar pukul 02.10 WIB, Tim Patroli Sabhara Polda DIY dan Kepolisian Sektor Kotagede menemukan remaja laki-laki yang mengalami luka pada bagian wajah di Jalan Gedongkuning, Kota Yogyakarta.

“Pelaku diduga menggunakan kendaraan bermotor roda dua. Dua kendaraan, satu kendaraan ditumpangi dua orang dan satu kendaraan ditumpangi tiga orang,” terang Ade.

Ade menambahkan, korban berinisial D saat itu sedang berkendara dengan temannya, berpapasan dengan para pelaku di Jalan Gedongkuning.

Tak lama setelah berpapasan, pelaku menyabetkan gir yang mengakibatkan luka parah di kepala D.

Korban kemudian dilarikan ke rumah sakit oleh polisi yang berpatroli, tetapi nyawanya tidak dapat diselamatkan.

Atas kejadian ini, beberapa warganet menyebut D merupakan korban klitih yang marak terjadi di Jogja.

Seperti twit salah satu warganet pada Minggu (3/4/2022) pukul 03.09 WIB, “Min dapat info ada yang kena Klitih deket Balai Banguntapan jln Gedongkuning.”

Apa itu klitih?
18 Desember 2016, berdasarkan Kamus Bahasa Jawa SA Mangunsuwito, kata klitih adalah bentuk pengulangan dari klitah-klitih yang memiliki makna jalan bolak-balik.

Pakar Bahasa Jawa sekaligus Guru Besar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Pranowo, menjelaskan bahwa klitah-klitih masuk kategori dwilingga salin suara atau kata ulang berubah bunyi.

Kata tersebut sama halnya dengan pontang-panting dan mondar-mandir.

SEE ALSO  Sakit Diabetes, Suti Karno Tetap Rajin Makan Es Krim

Adapun kata klitah, Pranowo mengartikan sebagai kegiatan keluyuran atau jalan-jalan yang tidak jelas arahnya.

Kata klitah-klitih sama sekali tidak mengandung unsur negatif. Tetapi sekarang, Pranowo menyebut kata ini dipakai untuk menunjuk aksi-aksi kejahatan dan kriminalitas.

“Katanya pun hanya dipakai sebagian, menjadi klitih atau nglitih yang maknanya cenderung negatif,” imbuh dia.

Sejak 1990-an
Istilah klitih marak di pemberitaan media sekitar 2016. Tercatat, ada 43 kasus kekerasan yang melibatkan remaja saat itu.

Merujuk arsip , kemunculan kriminal yang melibatkan remaja sudah ada sejak 1990-an.

Diberitakan pada 7 Juli 1993, Kepolisian Wilayah (Polwil) DIY mulai memetakan geng-geng remaja di Yogyakarta yang sering melakukan aksi kejahatan.

Hingga pada 2000-an, Wali Kota Yogyakarta kala itu, Herry Zudianto geram dan mengeluarkan instruksi agar pelajar Yogyakarta yang terlibat tawuran dikembalikan ke orang tua atau dikeluarkan dari sekolah.

“Akhirnya beberapa pelajar yang kemudian sadar, tidak lagi terlibat. Tapi anak-anak yang masih dalam lingkaran kekerasan, mencari atau melampiaskan ke jalanan. Inilah kemudian terjadi penyimpangan makna klitih,” ujar Soeprapto.

Kemudian, mereka pun berkeliling kota mencari musuh secara acak. Sehingga, motif kekerasan yang dulunya balas dendam, saat ini semakin beragam.

Bahkan kini, aksi pelajar tersebut sudah menggunakan alat-alat seperti rantai, gir sepeda motor, celurit, golok, dan senjata tajam lainnya.

Peran penting keluarga
Terkait fenomena klitih di Jogja, Soeprapto menuturkan, pihak keluarga, sekolah, lembaga pendidikan, agama, serta kepolisian diperlukan untuk mencari solusi.

Menilik kasus klitih yang banyak terjadi di malam hari, ia mengimbuhkan, pengawasan ketat keluarga akan sangat memperkecil kemungkinan tawuran dan kekerasan.

Soeprapto juga menyorot fungsi perlindungan keluarga terhadap anak remajanya yang melemah dalam kasus kekerasan yang dilakukan kelompok remaja ini.

SEE ALSO  Meninggalnya Remaja Asal Kebumen, Lima Pelaku Klitih Tertangkap

“Kalau dulu anak dianiaya sambatnya ke orang tua, tapi sekarang pada kelompoknya, Itu menandakan fungsi keluarga melemah,” ujarnya.